Balairung Lansek Manih Kantor Bupati Sijunjung menjadi saksi berkumpulnya ratusan praktisi pendidikan dalam gelaran Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII tahun 2026 yang dihelat pada Sabtu (18/07/2026). Mengusung tema "Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia", ajang tahunan ini menjadi momentum penting bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Sijunjung.
Acara ini dihadiri langsung oleh Bunda Guru Kabupaten Sijunjung, Ny. Nedia Fitri Benny Dwifa, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sijunjung, serta Pimpinan PT Pegadaian Cabang Solok.
Kegiatan diawali dengan laporan panitia pelaksana yang disampaikan oleh Ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Sijunjung, Neriliawati Yusi, S.Pd. Dalam laporannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang terkandung dalam esensi tema tahun ini.
"Melalui tema ini, kita diajak untuk bergerak bersama dan berkolaborasi dengan berbagai sektor demi menyiapkan generasi Sijunjung yang siap bersaing secara global tanpa meninggalkan identitas lokal," ujar Neriliawati.
Beliau juga menambahkan bahwa TPN XIII Sijunjung tidak sekadar menjadi ruang diskusi statis, melainkan sebuah wadah belajar interaktif bagi para pendidik melalui empat pilar kegiatan utama, yaitu Bincang Pendidikan, Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, dan Kelas Kompetensi.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Puji Basuki, S.P., MMA. Dalam sambutannya, Puji Basuki mengapresiasi perluasan kolaborasi pada pelaksanaan TPN tahun ini dan mengingatkan pentingnya konsep gotong royong dalam dunia pendidikan.
"Tahun ini ada yang lebih menarik, yakni kolaborasinya jauh lebih luas. Cita-cita kolektif adalah bentuk gotong royong, namun dalam konteks yang kita kaitkan dengan tugas-tugas sebagai pendidik. Untuk menuntaskan dan menyediakan pendidikan yang berkualitas, hal itu tidak bisa dilakukan secara individu melainkan harus berkolaborasi. Dinas Pendidikan saja tidak akan bisa, guru saja tidak akan mampu. Jika tidak ada sinkronisasi antara apa yang diajarkan di sekolah dan di rumah, tentu hasilnya tidak akan maksimal," tegas Puji Basuki.
Memasuki acara inti, kegiatan diisi dengan sesi Bincang Pendidikan yang mengangkat tema "Bergandeng Tangan dari Rumah ke Sekolah: Sinergi Guru dan Orang Tua demi Masa Depan Anak Sijunjung". Sesi ini menghadirkan para tokoh yang mengupas tuntas pentingnya kolaborasi multipihak secara mendalam.
Bunda Guru Kabupaten Sijunjung, Ny. Nedia Fitri Benny Dwifa selaku pembicara pertama memberikan motivasi mendalam mengenai peran ganda seorang perempuan serta beratnya tanggung jawab seorang pendidik.
"Saya sering menyampaikan kepada istri-istri hebat yang luar biasa, bahwa kita ini adalah perempuan hebat yang dalam satu waktu bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus. Setiap bulan saya bertemu dengan guru-guru PAUD yang luar biasa dan selalu menekankan bagaimana pentingnya peran orang tua. Menjadi guru itu tidak gampang, menjadi guru itu susah. Oleh sebab itu, dukungan dari rumah sangatlah mutlak." Ungkapnya.
Disusul oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sijunjung, H. Okto Verisman, S.Ag., M.A. sebagai pembicara kedua, beliau menyoroti aspek spiritualitas dan akhlak dalam ekosistem pendidikan yang harus dibangun bersama.
"Kontribusi kita pada pendidikan agama menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Karakter yang kuat inilah yang akan membentengi mereka saat menjadi warga dunia kelak," jelas H. Okto Verisman.
Selanjutnya, Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Delvianti Basri, S.E., M.Pd. mempertegas bahwa institusi pertama dan paling utama bagi seorang anak adalah lingkungan keluarga.
"Peran orang tua sangatlah penting sekali. Pendidikan itu bukan milik guru saja, melainkan hasil kolaborasi erat antara orang tua dengan guru. Pendidikan yang paling utama itu adalah keluarga, karena setiap hari proses pembelajaran yang sesungguhnya ada di dalam keluarga," tutur Delvianti.
Sesi diskusi ini ditutup oleh Pimpinan Pegadaian Cabang Solok, Mahendra, S.E. yang memaparkan dampak jangka panjang dari sinergi ini terhadap mental dan karakter tangguh generasi muda dari kacamata pendukung sektor publik.
"Kolaborasi dan keselarasan antara pendidikan di sekolah dan di rumah akan menciptakan generasi penerus yang disiplin, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan," pungkas Mahendra.
Sebagai wujud kepedulian nyata terhadap keberlangsungan pendidikan di Sijunjung, rangkaian acara TPN XIII ini ditutup dengan penyerahan bantuan pendidikan kepada tiga murid dari semua jenjang sekolah. Bantuan tersebut diserahkan kepada perwakilan murid dari SD Negeri 1 Palaluar, SMP Negeri 12 Sijunjung, dan SMK Negeri 3 Sijunjung.
Dengan suksesnya penyelenggaraan TPN XIII ini, Kabupaten Sijunjung kembali membuktikan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, kolaboratif, dan berwawasan global.
✍️ | @millenia_aa
📸 | @yudhanst18