Logo Info Publik
Iklan Aplikasi
Blog single berita

Dari Ngalau Basurek Hingga Lokomotif Silukah, Ziarah Pertama Jalur Kereta Api Pekanbaru - Muaro Sijunjung

Sebuah momen bersejarah tercipta di Ranah Lansek Manih. Sabtu (16/05/2026) puluhan peserta dari Belanda mengikuti Perjalanan Ziarah Sejarah Pertama Jalur Kereta Api Pekanbaru - Muaro Sijunjung. Kegiatan ini digelar untuk mengenang sekaligus menggali kembali memori kolektif terkait pembangunan jalur kereta api legendaris era Perang Dunia II yang sarat akan nilai sejarah dan perjuangan.

Perjalanan ziarah dimulai sejak siang hari, mengambil titik kumpul di Geopark Information Center (GIC) Silokek. Dari GIC, rombongan langsung bergerak menuju destinasi pertama, yaitu Ngalau Basurek Silokek. Di dalam goa alam yang eksotis ini, para peserta mengeksplorasi secara langsung bukti otentik sejarah berupa tulisan-tulisan berbahasa Belanda kuno yang terpahat di dinding goa. 

Puncak dari perjalanan ziarah sejarah ini ditutup dengan mengunjungi Lokomotif Uap Silukah. Monumen bersejarah ini merupakan salah satu sisa peninggalan armada kereta api yang rencananya digunakan untuk mengangkut batubara dari Muaro Sijunjung menuju Pekanbaru.

Setelah seharian menyusuri situs-situs bersejarah, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan agenda coffee time pada malam hari di Rumah Dinas Bupati Sijunjung.

Suasana malam yang akrab tersebut diawali dengan sesi ramah tamah dengan memperkenalkan makanan khas Sijunjung kepada para tamu. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Wouter Neuhaus, Ketua Yayasan Peringatan Jalur Kereta Api Burma-Siam dan Jalur Kereta Api Pekanbaru - Muaro Sijunjung.

Dalam momen tersebut, Wouter menyerahkan sebuah pin bunga melati—sebagai simbol penghormatan emosional yang melambangkan jalinan persaudaraan yang erat—beserta buku dokumentasi berisi potret dan kisah singkat para mantan pekerja romusha.

Wouter menceritakan bahwa di Belanda rutin digelar upacara untuk mengenang korban kerja paksa.

"Setiap bulan Agustus di Belanda, kami rutin melaksanakan upacara untuk mengenang kekejaman kerja paksa pada masa Perang Dunia II.” Ujarnya.

Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir, dalam sambutannya menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang mendalam atas kunjungan ziarah perdana yang sangat berharga ini.

"Atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Sijunjung, kami menyampaikan ucapan selamat datang dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kunjungan dari keluarga keturunan Belanda yang menjadi pekerja romusha ke Kabupaten Sijunjung.” Ujarnya.

Acara malam tersebut diakhiri dengan prosesi penyerahan cinderamata khas Sijunjung oleh Bupati kepada Wouter Neuhaus, dan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol persaudaraan dan perdamaian yang abadi.

.
.
.
Penulis & Foto | @millenia_aa
Top