Portal Kabupaten Sijunjung

Pengelolaan Sekolah Berbasis SOP

0

MC Sijunjung – Dunia pendidikan di Indonesia dikagetkan dengan beberapa kasus yang dialami para guru yang mendekam di sel tahanan, masuk penjara karena mencubit siswa. Ada yang di penjara gara-gara memotong rambut siswa,menampar siswa bahkan ada juga karena menyuruh siswa salat zuhur. Ada juga orang tua yang di penjara gara-gara menganiaya seorang guru.

Melihat fenomena ini, langkah seperti apa yang lebih tepat dilakukan?

Kasus-kasus yang menimpa guru, maupun orang tua, menjadi ramai diperbincangkan, ada yang pro dan kontra,sebagian pihak memandang menghukum siswa di perlukan dalam proses mendidik, sebagian lagi menganggap hal ini melanggar HAM. Sebagian pihak mendukung sikap orang tua yang telah menganiaya guru anaknya.

Atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, serta didorong oleh keinginan luhur, tulisan ini selesai ditulis berangkat dari keprihatinan terhadap beberapa persoalan tersebut.

Pertama

Salah satu strategi dalam penatalaksanaan pendidikan di sekolah adalah merumuskan Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) dalam semua kegiatan yang ada, dirumuskan dengan sangat detail dan jelas Petunjuk Teknis (Juknis) beserta Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) nya, lengkap dengan alokasi waktunya, memuat tata baku semua bentuk urusan yang ada dan terjadi di sekolah.

Jika di Sekolah Dasar, SOPnya hendaknya memuat tentang kegiatan selama 6 tahun, untuk tingkat SMP dan SMA masing-masing 3 tahun.

Sehingga semua pihak sudah mengetahui APA, SIAPA, DI MANA, KAPAN, KENAPA dan BAGAIMANA (ADIK SIMBA) di sekolah tersebut. Sehingga berdampak positif, seperti jika sekolah sudah memiliki Website contohnya, Warga Negara Asing (WNA) yang ingin bekerja ke Indonesia dan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut, bisa  mengenal segala sesuatu tentang penyelenggaraan sekolah itu.

Dalam penyusunan SOP, dibuat dengan melibatkan para ahli sehingga sempurna hasilnya, misalkan SOP menghadapi siswa yang cidera di sekolah, dalam perumusan juknis dan juklaknya melibatkan narasumber dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

contoh kedua dalam penyusunan SOP menghadapi bencana alam seperti kebakaran, Juknis dan Juklak nya mesti mendatangkan dari pihak pemadam kebakaran (Damkar), agar grand desain penyelamatan nya benar-benar sesuai dengan lingkungan dimana sekolah kita berada.

Dan masih banyak lagi berbagai macam SOP pada berbagai macam kegiatan perlu diterbitkan sekolah dengan melibatkan para ahli, agar semua terstandarisi, konten nya tidak berpotensi pelanggaran terhadap peraturan perundangan-undangan yang berlaku

Kedua

Tindak lanjut setelah semua Dokumentasi SOP tersusun, maka tahapan berikutnya adalah mensosialisasikan semua SOP tersebut kepada semua warga sekolah, seperi unsur guru, unsur siswa, unsur orang tua siswa dan dari semua pihak terkait lainnya.

Kegiatan seremonial dalam sosialisasi dipandang perlu agar ada efek psikis yang bermanfaat terhadap pentingnya pesan yang akan disampaikan. Sosialisasi menggunakan dua bentuk, lisan dan tulisan. Urusan sosialisasi ini menjadi penting karena penting nya materi yang di sampaikan.

Tahapan sosialisasi harus dipastikan terlaksana oleh pihak sekolah, agar semua unsur-unsur diatas mengetahui SOP yang akan menjadi pedoman dan panduan bersama tersebut. Serta agar setiap urusan terlayani dengan prima nantinya, contohnya kegiatan pengumpulan data orang tua siswa oleh sekolah berupa nomor handphone yang bisa dihubungi, maka orang tua siswa harus mengumpulkan data yang di minta, agar ketika diperlukan urusan komunikasi ini segera terlaksana.

Ketiga

Komitmen semua pihak dalam menjalankan SOP yang telah diketahui dan disepakati.

Contoh, ada SOP bagi orang tua untuk bertanya hanya kepada pihak sekolah jika menerima laporan bahwa anaknya terlibat konflik dengan siswa lain. Maka orang tua jika mengalami keadaan tersebut, hanya dibolehkan untuk bertanya kepada pihak sekolah sesuai dengan tata cara dan waktu yang telah di jelaskan dalam SOP, orang tua terlarang menanyai langsung kepada rival anak nya atau pihak lainnya, sesuai yang sudah di sepakati dalam SOP.

Keseriusan, kemauan yang kuat serta kesungguhan semua untuk mengikuti SOP, merupakan indikator semangat kerjasama dalam memajukan pendidikan.

Terakhir, salah satu contoh SOP:

  1. Siswa yang lupa aturan di sekolah, akan ditegur oleh guru tiga kali,
  2. Siswa yang mendapat teguran tiga kali harus membuat surat perjanjian setelah selesai jam belajar mengajar yang di tanda tangani oleh orang tua, agar bisa mengikuti pelajaran besok hari nya

Contoh prosedur diatas, telah tertuang didalam SOP, sudah diketahui dan di sepakati semua pihak, sehingga jika terjadi kasus serupa, maka tinggal mengikuti prosedur yang telah ada tersebut. Sehingga kekerasan terhadap fisik anak tidak terjadi, orang tua akan memaklumi bahwa anaknya melakukan pelanggaran

Contoh SOP bagi yang melanggar aturan terkait sampah, siswa yang membuang sampah tidak ditempat sampah, baru diperbolehkan masuk kelas lagi setelah melakukan tugas mandiri memungut sampah 20 buah serta mengisi buku kasus

Dengan adanya kejelasan sanksi atas setiap pelanggaran yang diketahui oleh semua pihak, maka bisa dipastikan konflik dan kesalahapahaman antara orang tua dan guru tidak akan terjadi, potensi terjadinya kasus pidana dalam dunia pendidikan bisa di minimalisir. Bahkan sebaliknya, siswa yang mengikuti  proses sanksi karena melakukan pelanggaran, akan teredukasi bahkan jera untuk melanggar, bahkan orang tua yang mengetahui anak nya berkasus di sekolah, akan memperbaiki pola pengasuhan terhadap anaknya di rumah.

Begitu juga halnya dengan penghargaan bagi siswa, contohnya penghargaan dengan memberikan piagam atau piala karena aktif Dokter Kecil Sekolah, sebagai Polisi Cilik, Ketua Kelas, Tokoh Kebersihan Sekolah, dan jenis jenis penghargaan laginya.

Dengan optimalnya melakukan pemetaan terhadap kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) yang ada di sekolah, ditindak lanjuti dengan merumuskan SOP nya dengan sangat terperinci, maksimal dalam sosialisasi SOP, serta memastikan semua yang direncanakan benar-benar terlaksana.

Semoga dengan berhasilnya melakukan perencanaan, sama halnya dengan merencanakan keberhasilan, dan sebaliknya, gagal merencanakan, sama dengan merencanakan kegagalan itu sendiri

Isa Alamsyah penulis buku No Excuse mengatakan dalam seminar pendidikan di gedung Pancasila beberapa tahun lalu, Orang yang gagal akan selalu mencari-cari alasan untuk berhenti, sebaliknya orang yang sukses akan berhenti mencari-cari alasan. /infopublik.sijunjung.go.id

Penulis : Ari Yunanda, S.Pd (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.