Portal Kabupaten Sijunjung

WARGA KELUARKAN DANA RP 16,261 M UNTUK ROKOK

0

Rokok mengandung 4.000 zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan, seperti Nikotin yang bersifat adiktif dan Tar yang bersifat karsinogenik. Bahkan juga Formalin. Akibatnya ada 25 jenis penyakit yang ditimbulkan karena kebiasaan merokok, seperti Emfisema, Kanker Paru, Bronkhitis Kronis dan Penyakit Paru lainnya.

Sebagaimana tertuang dalam nota pendapatan Bupati H. Yuswir Arifin Datuak Indo Marajo terhadap tiga Ranperda inisiatif yang diusulkan DPRD kepada Pemda Sijunjung, yaitu tentang lembaga bantuan hukum bagi masyarakat miskin, lembaga penyiaran publik lokal Radio Lansek Manih dan Ranperda kawasan tanpa rokok, dampak lain dari bahaya merokok, adalah terjadinya penyakit jantung koroner, peningkatan kolesterol darah, berat bayi lahir rendah, keguguran dan bayi lahir mati.

Dalam pendapatnya bupati juga menjelaskan, Soewarta Kosen dkk (2009) memperkirakan tanpa biaya rawat inap, total biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat karena penyakit yang berkaitan dengan tembakau berjumlah Rp15,44 triliun. Sedangkan biaya rawat inap diperkirakan  Rp 3,11 triliun, sehingga total biaya untuk rawat inap dan rawat jalan sebesar Rp18,55 triliun.

Disamping itu, WHO memperkirakan pada tahun 2030, dari 70 persen kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Sejalan dengan hal itu, Riset Kesehatan Dasar 2010 menyebutkan prevalensi perokok saat ini sebesar 34,7 persen. Artinya lebih dari sepertiga penduduk merupakan perokok

Fakta empiris diatas sesuai dengan hasil riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan RI Tahun 2013 yang mengungkap fakta cukup fenomenal mengenai kesenangan/kebiasaan merokok, bahwa masyarakat di Kabupaten Sijunjung adalah termasuk dengan jumlah perokok tertinggi di Sumatera Barat, yaitu 35,13 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan angka rata-rata perokok untuk propinsi, 30,28 persen.

Maka dengan jumlah penduduk Kabupaten Sijunjung yang lebih kurang 214.560 jiwa, berarti jumlah perokok aktif di daerah ini adalah 35,13 persen dari 214.560 jiwa, yaitu 75.375 jiwa.

Dengan biaya rata-rata yang dibelanjakan oleh individu perokok untuk membeli tembakau dalam satu bulan Rp216.000, secara makro total biaya yang dibelanjakan oleh perokok di Kabupaten Sijunjung dalam sebulan Rp16,281 miliar, dalam setahun, Rp195,372 miliar, papar bupati.

Berkaitan dengan itu, pemerintah telah menetapkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) untuk melindungi seluruh masyarakat dari bahaya asap rokok, melalui Undang–Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 pasal 115 ayat (1) dan ayat (2) yang mengamanatkan kepada pemerintah daerah (wajib) untuk menetapkan dan menerapkan KTR di wilayahnya.

Sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri DaIam Negeri Nomor 188/MENKES/PB/I/2011 dan Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) bahwa Peraturan Daerah mengenai Kawasan Tanpa Rokok paling sedikit memuat  pengaturan tentang KTR, peran serta masyarakat, pembentukan satuan tugas penegak KTR, larangan dan kewajiban serta sanksi, jelas Bupati Yuswir Arifin. –nas.sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.