Portal Kabupaten Sijunjung

PERERAT SILATURRAHIM

0

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sijunjung H. Hidayahtullah mengajak dan mengimbau kaum muslimin dan muslimat untuk mempererat silaturrahim serta menjaga kenyamanan dan ketertiban hidup bersama.

 “Memanfaatkan momentum Ramadhan ini, mari kita wujudkan kehidupan dengan mempererat silaturrahim diantara kita. Buang jauh-jauh sifat negatif dan hilangkan permusuhan. Tidak ada manusia yang tidak salah. Bahkan merasa benar adalah bahagian dari kesalahan. Kalau orang lain ada kesalahan kepada kita, kita pun manusia yang tak pernah lalai dan luput dari dosa dan kekeliruan,” kata Hidayahtullah, Jumat (10/6), di Muaro Sijunjung.

Berbeda pendapat merupakan hal biasa, karena tidak setiap perbedaan membawa perpecahan. Sedangkan keragaman adalah keindahan dan perbedaan cara pandang adalah nikmat dari Allah SWT agar semua pihak bisa saling memadukan potensi.

Namun perbedaan yang disikapi secara negatif, tidak saja akan menjadi penghalang kemajuan, tapi juga melumpuhkan kekuatan,  meruntuhkan umat serta melemahkan persatuan dan kesatuan.

“Bagaimana akan membangun kalau kita selalu memperuncing persoalan kecil. Kapan kita akan membangun peradaban jika hari-hari kita sibuk memperjauh perbedaan. Justru itu, mari kita sadari serta manfaatkan peluang dan kesempatan untuk kebajikan. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan dosa, tak ada yang suci. Makanya, dalam hidup bersama yang harus ditumbuhkan adalah sikap saling menghormati dan menghargai,” imbau ketua MUI.

 Selain itu Hidayahtullah juga menjelaskan empat sifat yang ada dalam diri manusia. Tiga dari empat sifat itu berpotensi untuk mencelakakan manusia dan satu berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.

Pertama, sifat syaithaniyah; sifat identiknya adalah kecemburuan, hasad dan dengki, saling iri dan menjatuhkan. Pekerjaan dan targetnya bagaimana membuat jalan yang menyesatkan. Menjerumuskan dan menjatuhkan pada jalan kenistaan. Membasmi dan menghilangkan sifat kemanusiaan dan martabat anak Adam yang dimuliakan.

Kedua, sifat kebinatangan ‘bahimah’ sifat binatang ternak. “Kita tahu persis bagaimana sikap binatang ternak yang diciptakan tanpa fikir, tanpa rasa. Bagi binatang ini adalah sifatnya, ia begitu, adalah lumrah. Tapi kalau manusia yang diberi hati diberi rasa, bersikap dengan sikap bahimah, maka ini petaka dan berbahaya,” kata Hidayahtullah.

 Ketiga, sifat buas “sabi’iyah” bukan binatang ternak, tapi lebih tinggi, binatang liar dan buas. “Kita tahu persis sifat-sifat identiknya adalah kesemena-menaan, tak punya rasa kasihan, tidak ada iba dan rasa. Ia akan menerkam siapa saja, andalannya adalah bringas dan tenaga, kuku tajam dan taringnya. Karakternya kezaliman, tidak ada keadilan. Yang kuat berkuasa, yang lemah binasa. Tidak ada ukuran kebenaran, yang ada unjuk kekuatan. Ini yang kita kenal dengan hukum rimba. Yang kuat selamat yang lemah terhina. Yang berani akan menindas yang pengecut. Yang kuat akan memakan yang lemah”.

 Sedangan satu-satunya sifat yang menjamin keselamatan dan kebaikan manusia, adalah sifat ‘rububiyyah” sifat berketuhanan, beriman, bertaqwa, memiliki kontrol keyakinan. Yakin akan hari pembalasan. Dan percaya bahwa kehidupan dunia akan dipertanggungjawabkan.

Kebenaran mutlak adalah ketentuan Tuhan, dijelaskan nabi, dikandung Al Quran. Sifat yang tumbuh tidak mengedepankan napsu keserakahan, tidak ada kepuasan di atas kejahatan. Kebahagiaan bukan tumbuh di atas penderitaan orang lain. Bukan berhasil dengan menjahati orang lain. Atau bukan juga semangat yang tak pernah berharap kebaikan untuk orang lain, urai ketua MUI Hidayahtullah. –nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.