Portal Kabupaten Sijunjung

PENGELOLAAN SANITASI DI SEKOLAH DASAR

0

Afnilaswati, S. Psi. I

 ( GURU BK SMPN 13 SIJUNJUNG )

Pengelolaan sanitasi di sekolah dasar sangat urgen dalam menunjang proses belajar mengajar dan proses pertumbuhan serta perkembangan siswa. Sanitasi sangat erat kaitannya dengan lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mengajar dan juga kesehatan warga sekolah. Sanitasi yang tidak dikelola dengan baik di sekolah bisa menyebabkan proses pembelajaran terganggu. Pengelolaan sanitasi di sekolah dasar adalah tanggung jawab seluruh warga sekolah, oleh karena itu dalam pengelolaan sanitasi melibatkan seluruh warga sekolah. Ada beberapa sanitasi yang perlu pengelolaan dengan baik, yang sangat menjadi perhatian penulis adalah penyediaan air bersih. air bersih sangat dibutuhkan pada suatu sekolah, baik sekolah kecil (warganya sedikit  apalagi sekolah besar yang warganya banyak). Jika air bersih tidak mencupi di suatu sekolah apalagi tidak tersedia, tentu warga sekolah bisa terserang penyakit karena tangan siswa akan kotor ketika memakan sesuatu, atau jika siswa punya hajat BAB/BAK tentu tidak akan di siram, andai itu terjadi tentu saja aromanya akan mengganggu kosentrasi siswa yang sedang belajar apalagi WCnya itu dekat dengan ruang kelas. Setiap ruangan yang ada di sekolah harus dilengkapi dengan tempat cuci tangan, ember penampung air cucian, sabun dan juga lap tangan, supaya  tangan siswa terbiasa dalam keadaan bersih. Untuk mendapatkan air bersih bisa dengan cara memasukan air PDAM kesekolah jika tersedia, jika tidak tersedia bisa dengan menggali sumur. Untuk pengelolaannya supaya air tersedia dan mencukupi setiap harinya bisa menunjuk petugas khusus dan juga tentunya dengan melibatkan seluruh siswa. Dengan cara mengatur piket per kelas. Ini dilakukan supaya setiap siswa punya rasa tanggung jawab dan rasa membutuhkan sehingga siswa bisa mempergunakan air seperlunya tanpa harus terbuang percuma.

Sanitasi kedua yang jadi perhatian di sekolah adalah ketersediaan WC yang mencukupi sesuai denga rasio siswa. Perbandingannya siswa PR 1 WC untuk 25 siswi dan untuk laki-laki 1WC untuk 40 siswa. Selain WC siswa juga difasilitasi dengan tempat berwudhuk yang memadai dan juga bersih, serta tempat ibadah yang mencukupi bagi seluruh warga sekolah. Disamping ketersediaan WC mencukupi bagi seluruh warga sekolah, kebersihannyapun juga menjadi hal yang sangat penting, agar semua siswa nyaman menggunakannya. Untuk itu sekolah seharusnya juga melibatkan siswa dalam menjaga kebersihannya, dengan cara membuat daftar piket WC dan tempat berudhuk setiap harinya, yang tugasnya memastikan WC dan tempat berwudhuk dalam keadaan bersih pada waktu mereka piket. Kalau masing masing siswa diberi tugas dan tanggung jawab tentu siswa akan terbiasa untuk memelihara kebersihan itu apalagi di sekolah dasar. Dari kecil sudah di ajarkan bertanggung jawab, maka besarnya akan terbiasa, seperti pepatah minang ketek taraja-raja, gadang tabaok-baok, la tuo tarubah tido.

Selanjutnya yang harus menjadi perhatian dalam pengelolaan sanitasi di sekolah dasar adalah sampah. Tempat sampah yang terpisah bisa memudahkan pengelolaannya. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk pengelolaan sampah tersebut diantaranya : kalau sampahnya berupa sisa makanan bisa di masukkan ke biofori. Gunanya untuk merangsang hadirnya cacing dan membuat tanah subur. Sampah yang berupa daun-daunan dapat di buat pupuk kompos yang bisa di manfaatkan sekolah untuk pupuk tanaman yang ada di sekolah. Jika komposnya banyak maka bisa dijual dan mendapatkan uang, uang tersebut dapat digunakan untuk kepentingan bersama. Kalau sampah yang bisa di daur ulang, maka bisa  di jadikan sebuah karya yang berguna dan juga dapat dijual untuk menghasilkan uang. Supaya sampah terolah dengan baik dan siswa peduli dengan lingkungan dirikanlah bank sampah. Petugasnya terdiri dari guru dan siswa. Petugas bank sampah akan mengelompokkan sampah tersebut. Mana sampah yang bisa jadi karya ( daur ulang ), sampah untuk kompos atau yang berupa kaleng minumam  yang bisa langsung di jual. Supaya bank sampah bisa terkendali dengan baik maka, untuk memudahkan pengelolaannya harus dibuatkan daftar piket serta jadwal kelas menabung. Masing-masing kelas akan berlomba untuk menabung dan meningkatkan tabungannya. Uang tabungan dari hasil penjualan sampah setiap kelas juga bisa digunakan oleh warga kelas masing masing untuk kepentingan bersama. Jika semua warga menganggap sampah itu seluruhnya bisa berguna bahkan dapat menghasilkan uang maka tidak akan ada yang namanya lingkungan yang kotor, tidak ada lagi sampah yang berserakan sehingga akan tercipta lingkungan yang bersih dan nyaman. Oleh karena itu sekolah harus kontiniu melakukan sosialisasi tentang pengelolaan sampah ini, supaya seruruh siswa selalu di ingatkan yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan. Sehingga mereka tidak hanya melakukan pengelolaan sampah di sekolah tetapi juga diterapkan dirumah, bahkan dilingkungan tempat tinggal masing-masing.

Selanjutnya sanitasi yang harus dilakukan pengelolaanya di sekolah adalah sarana pembuangan air limbah. Tempat pembuangan air limbah ini harus tertutup jangan sampai mengeluarkan bau yang tidak sedap yang akan mengganggu kenyamanan warga sekolah, apalagi sampai tergenang tentu akan menjadi tempat bersarangnya tikus, yang akan memancing datangnya penyakit, untuk itu maka buatlah IPAL yaitu ( Instalasi Pembuangan Air Limbah ).  Sama halnya air limbah, limbah kantin pun juga harus dibuatkan tempatnya yang tertutup. Supaya air bekas cuci piring tidak tergenang, maka musti di alirkan melalui pipa yang langsung masuk ke dalam tanah yang sudah dilubangi.

Disamping yang sudah penulis paparkan di atas hal yang penting juga dalam pengelolaan sanitasi yaitu drainase. Drainase harus selalu kering dan bebas dari genangan air, supaya tidak bersarang nyamuk, yang akan menjadi sumber penyakit, maka air hujan juga di alirkan ke tempat yang tertutup. Minsalnya dengan membuat sumur resapan. Sumur resapan juga bisa dimanfaatkan airnya, untuk persediaan air bagi tanaman yang ada disekelilingnya ketika musim kemarau.

Di samping penyediaan air bersih, ketersediaan WC yang mencukupi dan tempat berwudhuk yang bersih, pengelolaan sampah yang baik, pengelolaan air limbah , dan juga drainase yang selalu dalam keadaan kering, maka kantin sekolah pun juga harus menjadi perhatian di sekolah. Untuk itu setiap seminggu harus dilakukan monitoring kantin, dengan membentuk tim monitoring yang terdiri dari guru dan siswa. Banyak hal yang musti di monitoring berkenaan dengan kebersihan kantin, seperti kelengkapan alat kebersihan, ketersediaan tempat sampah yang terpisah dan tertutup, ketersediaan alat suci piring yang musti menggunakan air bersih dan mengalir serta ketersediaan air cuci tangan dan lap tangan. Menu makanan juga harus menjadi perhatian, makanan yang tersedia di kantin sekolah harus ber gizi, tidak memakai bahan berbahaya dan pewarna makanan yang terlarang. Makanan harus terbungkus dan tertutup. Kantin sekolah sangat terlarang menjual makanan pabrikan. Disamping itu petugas kantinpun harus berpakaian bersih dan rapi memakai tutup kepala dan cilemek. Melailui monitoring kantin ini diharapkan kantin selalu dalam keadaan bersih serta menyediakan makanan yang sehat dan mencukupi bagi seluruh warga sekolah.

Jika di sekolah dasar,  pengelolaan sanitasinya sudah baik, seperti yang penulis paparkan sebelumnya, maka lingkungan sekolah akan senantiasa dalam keadaan bersih, bukankah kebersihan itu sebahagian dari iman, sebagaimana hadis nabi annazhofatu minal iman  (kebersihan itu sebagian dari iman), maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai insan yang beriman untuk selalu berprilaku hidup bersih dimana saja, kapan saja, apalagi di sekolah tempat menuntut ilmu untuk bekal hidup dunia dan akhirat.

Dengan adanya pengelolaan sanitasi di sekolah dasar diharapkan mutu sekolah dasar akan meningkat karena sebagian hal yang membuat proses belajar tergaganggu sudah bisa teratasi, sehingga proses pembelajaran akan berjalan dengan efektif, efesien dan lancar. InsyaAllah.@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.