Portal Kabupaten Sijunjung

MANUSIA SERAKAH TIDAK PERNAH PUAS

0

Semua manusia  awalnya berada pada fitra Islami. Namun lama kelamaan fitra Islami itu rusak karena intervensi nilai jahiliyah serta tingkah laku manusia itu sendiri.

Akibatnya, kerusakan moral dan perilaku jahiliyah mewarnai hidup dan kehidupan dimana-mana. Di gedung, di kantor, terminal dan di pasar, bahkan di tempat suci yang semestinya orang tunduk kepada Allah SWT, sehingga sifat sebagian manusia sama dengan sifat syaitan. Bahkan lebih.

Pada hal sifat khusus syaitan adalah ingkar kepada Allah SWT dan selalu berbuat kejahatan.  Jika syaitan ada yang patuh dan berbuat baik, maka ia tidak lagi dinamakan syaitan.

Sedangkan manusia, diciptakan Allah SWT dengan sifat ganda, yaitu  patuh dan ingkar.  Kepatuhan manusia kepada Allah bisa menyamai malaikat. Bahkan bisa melebihi, kata  H. A. Rahman, di Muaro Sijunjung, Rabu (21/6).

Kalau malaikat patuh tidaklah aneh, karena ia tidak mempunyai sifat ingkar.  Tapi jika manusia yang patuh kepada Allah SWT, boleh dikatakan luar biasa, karena manusia memiliki sifat ingkar yang kadangkala manusia itu sendiri tidak mampu mengekang dan mengendalikannya.

Sebaliknya, keingkaran manusia juga bisa melebihi syaitan.  Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam  Al Quran, syaitan tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada manusia, tapi hanya membujuk agar manusia mau berbuat kejahatan.

Syaitan tidak pernah membunuh manusia. Tapi karena kebiadaban, manusia ada yang tega menggorok, memotong dan mencincang manusia. Bahkan ada ibu kandung yang  sampai hati mencekik, menginjak dan membuang bayinya sendiri, sebut A. Rahman.

Dengan dasar itulah Allah SWT dalam  Al Quran mengatakan bahwa manusia bisa menjadi syaitan.  Maksudnya bukan bentuk manusia yang berubah menjadi syaitan. Tapi perangai manusia itu sendiri  yang sama dengan perangai syaitan. Bahkan lebih buruk dan biadab.

Dalam sebuah hadits Rasulullah menggambarkan, bila seekor harimau dimasukkan ke dalam kandang kambing, yang akan dimakan harimau  hanya seekor atau dua ekor kambing. Setelah itu harimau pergi.  Tapi, jika manusia yang dimasukkan,  jangankan satu kandang, berpuluh-puluh dan beratus-ratus kandang, bahkan dengan kandang-kandangnya akan habis oleh manusia.

Artinya, dalam mengarungi hidup dan kehidupan di atas dunia ini, manusia yang tidak kanaa tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah merasa cukup terhadap kebutuhan, sehingga sudah dapat satu ingin dua, dapat dua ingin tiga. Bahkan dalam satu adist Nabi Muhammad SAW menjelaskan, manusia diberi dua lurah yang penuh emas dia tidak bersyukur, tapi minta satu lurah lagi. Begitulah keserakahan manusia yang dikendalikan hawa nafsu.

Dan manusia seperti inilah yang akan membawa kerusakan di bumi Allah yang juga akan membawa kesengsaraan pada mansyarakat. Karena dia akan memakan apa saja yang ada disekelilingnya. Batu, aspal, kayu, tanah, semen, besi akan dilibas dan dimakannya.

Tidak peduli haram atau halal, masa bodoh apakah orang akan teraniaya, merana dan sengsara. Yang penting nafsu angkara murkanya terpenuhi, meski pun menari di atas bangkai teman sendiri dan bergembira di atas penderitaan orang lain.

Untuk mengatasi semua inilah Allah SWT membimbing dan menuntun manusia dengan mewajibkan beribadah kepada-Nya, agar manusia itu selalu memiliki rohani yang bening dan bersih, sehingga mampu  mengendalikan  nafsu angkara murka yang serakah, biadab, sadis dan biringas.

Namun kadang kala sebagian manusia tidak menghiraukan perintah dan larangan Allah, apa lagi bimbingan dan tuntunan-Nya, sehingga manusia itu lupa diri dan lupa daratan. Pada hal orang lupa diri lupa kepada Tuhan dan orang yang melupakan tuhan, temannya adalah syaitan, jelas A. Rahman. –nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.