Portal Kabupaten Sijunjung

EVALUASI DIRI PADA PERGANTIAN TAHUN

0

Surya yang berkilau di ufuk timur dan mata hari yang memancarkan cahaya pada Sabtu (31/12) , masih milik tahun 2016.

Gerahnya panas atau derasnya hujan yang menyinari atau menyiram bumi sepanjang siang dan sore Sabtu, masih kepunyaan tahun 2016.

Semilir angin yang bertiup, awan yang bergumpal, mendung yang kelabu serta dingin dan hirukpikuknya suasana alam dari senja sampai tengah malam Sabtu, juga masih milik tahun 2016.

Tapi pukul 00.00 WIB lewat sepermeliar detik pada Sabtu tengah malam itu, tanpa dapat ditahan, dicegah apa lagi dihalangi, tahun 2016 sudah berlalu dengan segala keindahan dan kegetiran yang tidak akan pernah kembali

Tahun itu hanya akan menyisakan kenangan dan meninggalkan peristiwa demi peristiwa. Karena pada waktu lewat sepermeliar detik itu, semua yang ada di atas bumi ini sudah berada di tahun 2017.

Apa yang bakal terjadi pada tahun 2017, tidak seorang pun yang mampu meramalkan. Jangankan setahun yang akan datang, sepermeliar detik yang akan tiba saja, tidak ada manusia yang mengetahuinya, karena itu adalah rahasia dan kekuasaan Allah SWT.

Yang bisa diketahui, sebagaimana tahun sebelumnya, detik-detik pergantian tahun Masehi ini disambut oleh sebagian generasi muda Islam dengan kegiatan yang tidak berguna, seperti naik gunung, nginap di pinggir danau, dan di pinggir laut serta  kegiatan lain yang mudaratnya lebih besar dari manfaatnya.

Tidak diketahui dengan pasti, apa yang diperoleh dan diperdapat generasi muda Islam dengan menyambut kedatangan 1 Januari dengan kegiatan glomaur yang tidak mengandung arti dan nilai terhadap kehidupan dan syariat Islam.

Yang jelas, kegiatan mubazir dan hura-hura yang mudaratnya lebih besar dari manfaatnya, bertentangan dengan ajaran Islam serta dengan adat istiadat Minangkabau yang bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah.

Jelas akan lebih berarti dan bermakna bila momentum penggantian tahun dijadikan untuk mengevaluasi diri, sudah sejauh mana kita mempersiapkan bekal untuk dibawa ke kampung Akhirat yang kekal dan abadi.

Karena kehidupan ini tidak ubahnya seperti sebuah perjalanan panjang. Semakin banyak tonggak kilometer yang dilewati, semakin dekat terminal yang dituju.
Artinya, dengan berganti dan beranjak naiknya tahun, usia yang dijatahkan Allah SWT kepada umat, sudah semakin berkurang. Kematian sudah semakin dekat.

Justru itu, seyogyanyalah pergantian tahun ini dijadikan untuk tafakur, merenung dan mengevaluasi diri bagi generasi muda Islam, sudah berapa dan sudah sejauh mana kita mempersiapkan bekal untuk hidup di Akhirat.

Bukan menyambut detik-detik penggantian tahun dengan kegiatan yang tidak berarti dan berguna. Apa lagi kegiatan itu mudarat lebih besar dari manfaatnya, yaitu membuang-buang waktu, usia, tenaga dan materi.

Lagi pula, selaku umat yang mengaku beragama Islam, yang harus disambut dan diperingati semeriah mungkin, adalah tahun baru Hijriyah  1 Muaharam. Karena sesungguhnya tahun hijriyah inilah tahun umat Islam, bukan tahun Masehi.

Tanpa mencari siapa yang salah dan yang lalai, jujur diakui, selama ini yang disambut dengan kemeriahan oleh masyarakat, terutama generasi muda hanyalah kedatangan tahun Masehi. Kedatangan 1 Muharram ada juga penyambutannya, tapi tidak semeriah dan seglomaur 1 Januari.

Untuk itu, mulai hari ini dan ke depan, kita berharap  generasi muda Islam insyaf dan sadar dari kesalahan dan kekeliruannya, sehingga tidak lagi melakukan aktifitas yang tidak berarti dan berguna dalam menyambut detik-detik pergantian tahun Masehi.

Dalam menginsyafi dan menyadari sebuah kesalahan dan kekeliruan, dengan tekad dan niat tidak mengualanginya lagi, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Semoga. –nas.sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.