Portal Kabupaten Sijunjung

CERAMAH SISWI MAN MENGAGUMKAN JEMAAH

0

Masih remaja memang, usinya baru 16 tahun. Namun disamping uraiannya berisi dan mengena, ceramah yang berjudul ‘perjalanan hidup sesudah mati’, penyajiannya juga mantap dan stematis, sehingga enak didengar dan disimak serta mudah dicerna.

Selain itu, suaranya yang merdu dan irama lantunan ayat suci Al Quran yang menusuk kalbu, tidak hanya membuat jemaah terkesimak, tapi juga kagum dan terharu. Bahkan ada kaum bapak yang berlinang air matanya.

Tidak hanya itu, menyimak ceramah yang terarah dan bernilai  serta menikmati suara nan merdu dan irama lantunan ayat suci Al Quran nan sahdu, jemaah Tarweh yang memadati Masjid Jamik, saling bertanya sesamanya, “anak sia tu, dima rumahnyo, sikolah baranyo?” tanya mereka.

Dengan tekanan intonasi lemah lembut, tegas dan pasti, selain menguraikankan kebesaran dan keagungan bulan suci Ramadhan serta orang yang diseru Allah SWT untuk mendirikan puasa, Novia Sulastri juga memaparkan bahwa dunia ini hanyalah permaianan dan sendagurau serta perjalanan hidup sesudah mati.

“Dunia ini hanya panggung sandiwara, permainan dan sendagurau. Perumpamaannya adalah drama yang dimainkan di atas pentas. Cerita habis, layar pentas ditutup, para pemain kembali ke rumahnya,” kata Novia.

Setelah melantunkan ayat suci Al Quran, (surat Al-Hadid ayat 20), Novia menguraikan artinya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan megah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat  ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

“Hanya itulah dunia buk pak. Jangan kita sampai tertipu dan terpedaya, karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanya senda gurau dan main-main. Di Akhiratlah kehidupan yang sebenarnya serta kekal dan abadi,” kata Novia.

Karena kehidupan di dunia  hanya senda gurau dan main-main, Allah SWT menyeruh manusia agar bertaqwa dan takut kepada-Nya. Sebab pada suatu hari yaitu di Padang Mahsyar, setiap manusia akan hidup nafsi-nafsi (malapehan untuang surang-surang). Seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat  menolong bapaknya sedikit pun.

Ketika manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat. Keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia, urai Novia Sulastri. nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.