Portal Kabupaten Sijunjung

BERUMAH TANGGA TIDAK SEINDAH MASA PACARAN

0

Teman saya yang baru tiga bulan membina dan merajut mahligai rumah tangga, dengan kata lain masih animun dan bulan madu, suatu pagi di tanggal tua duduk termenung sampai di kantor.

Wajahnya kusuik masai, rambut acak-acakan, seragam yang dikenakan semeraut. Celana dan baju berkerut, sepatu tidak mengkilat. Dengan merapat ke meja dan tangan menopang dagu, rokok yang terselib di bibir dia isap dalam-dalam.

Melihat penampilannya yang tidak ceria dan serapi hari sebelumnya, dapat dipastikan kalau pegawai golongan dua ini sedang menghadapi satu masalah. Bahkan tidak tertutup kemungkinan tengah  dilanda persoalan besar, berat dan rumit.

Karena teman sejawat, sekantor dan seruangan yang juga konco bagurau dan bercandaria, saya beranikan diri menyigi dan bertanya kenapa dia begitu muram.

Semula dia diam seribu bahasa. Hanya tatapan hampah dan kosong serta asap rokok keretek yang mengepul ke udara. Namun setelah saya pancing dengan kata-kata ringan dan menggelitik, suaranya keluar  juga.

“Ternyata berumah tangga tidak seindah masa pacaran. Masalah dan problema yang tidak pernah saya temukan sewaktu pacaran,  sekarang menggeluti hidup dan kehidupan saya. Pagi tadi saya tidak disuguhi teh manis oleh isteri karena tidak ada gula. Sahinggo ka kantua hanyo lapeh ayam. Tidak ada senyum pengantar tugas, tidak ada ucapan selamat bekerja dan hati-hati di jalan,” cerita teman saya itu sambil mengisap dan mempermainkan rokok yang sudah terpuntung.

“Berumah tangga tidak seindah masa pacaran.” Sepenggal kalimat dan fakta yang kini dirasakan teman saya, memang seharusnya menjadi catatan bagi kawula muda yang akan menempuh hidup baru, supaya tidak gamang menjalaninya..

Sewaktu pacaran, semuanya indah dan manis. Bahkan kopi kental tanpa gula yang diminum, kalau pacar yang membuat dan menyuguhkan, akan terasa manis. Begitu juga ketika berjalan berdua. Bila gadis pujaan tertarung batu, dengan mesra pemuda berucap, “hati-hati yang!”

Kenapa semuanya indah dan manis? Karena saat pacaran pasangan sejoli yang tengah kasmaran dan sedang menjalin asmara, selalu menutupi kekurangan dan keburukan yang ada dalam dirinya.

Nan diotaan  nan rancak-rancak sae. Bahkan bulan purnama dan bintang yang berkelip, menjadi cerita indah. Pada hal atmospir itu tinggi dan teramat tinggi.

Tapi begitu biduk rumah tangga mulai dikayuh, bahtera kehidupan sudah direnda, secara perlahan namun pasti, keaslian, fakta dan kenyataan yang sesungguhnya akan terlihat.

Tidak jarang keaslian yang ditutupi dengan kepalsuan waktu pacaran, berakibat buruk terhadap biduk rumah tangga yang dikayuh. Biduk bisa oleng dan goncang. Pengayuh bisa patah, sehingga nakhoda keilangan pegangan dan pedoman.

Kalau waktu pacaran sang kekasih tasipak batu “hati-hati yang!” Setelah berumah tangga isteri tertarung kerikil, “kama mato kau? Mangango se bajalan.” Kata mesra dan sayang berubah dratis menjadi caci maki.

Begitu juga segala yang indah dan manis ketika pacaran, seiring dengan bergulirnya waktu, secara beransur akan memudar, terseret oleh romantika kehidupan yang beraneka ragam.

Saat pacaran, bunga cinta dan bumbu asmara adalah birunya laut dan sejuknya angin mamiri. Tapi setelah berumah tangga, tanpa dapat dihindari cerita indah akan tergeser oleh fenomen kehidupan yang kadang kala pahit dan getir.

Sesuai tuntutan dan kebutuhan, isteri akan mengadukan segala sesuatunya kepada suami. Bareh nan indak ado akan dibisiak-an. Minyak tanah abih disampaikan. Gulo nan tande dikecek-an lo. Pokok e, mulai dari nan ketek sampai ka nan gadang, dilaporkan kepada suami supayo nan indak ado manjadi ado.

Inilah yang dinamakan berumah tangga. Selaku kepala keluarga suami bertanggungjawab mencukupi kebutuhan, terlebih keperluan harian. Sementara isteri harus mampu mengurus dan mempergunakan yang ada meski itu tidak seberapa.

Disinilah letaknya berumah tangga tidak seindah masa pacaran. Karena setelah ijab kabul pernikahan dilapaskan, sandiwara cinta dan sinema asmara tidak ada lagi. Yang akan dihadapi dan dijalani adalah fakta  dan kenyataan yang sesungguhnya serta suka duka  romantika kehidupan.

Untuk itu, bagi remaja yang sedang dimabuk cinta jangan hanya membayangkan indahnya berbulan madu. Tapi khayalkan juga beratnya tanggungjawab dan beban kehidupan yang akan dipikul. Karena indahnya masa pacaran tidak akan ditemui setelah berumah tangga.

Yang juga perlu diingat, dapek nan dihati, indak dapek bak kato hati. Dapek bak kato hati, indak dapek nan dihati. Untuk sekedar direnungkan. nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.