Portal Kabupaten Sijunjung

ASMARA TARWIH MENGANDUNG DOSA

0

“Ma, Ida pergi salat Tarwih bersama teman,” kata Yeny minta izin kepada mamanya. Saat itu Yeny sudah siap untuk berangkat, lehernya yang jenjang sudah dililit selendang, sudah bersarung dan  mengepit mukena.

 Sang mama yang masih mengemasi piring, gelas dan sisa makanan sehabis berbuka puasa, tidak langsung menjawab, karena dalam pikirannya muncul pertanyaan. “Apakah iya Yeny pergi shalat? Atau tidak?”

“Ma Yeny pergi ya,” ulang Yeny mengagetkan mamanya. “Ya ya, iya. Tapi benar-benar pergi shalat ya! Jangan kemana-mana dan jangan pula ribut di masjid,” pesan sang mama kepada gadisnya yang oleh Yeny antara terdengar dengan tidak, karena dia sudah bergabung dengan sejumlah teman sebayanya yang sudah dari tadi menunggu di halaman rumah.

 Sepenggal dialog  anak dengan ibu ini, memang pantas direnungkan oleh para remaja  yang sesat. Karena biasanya, setiap Ramadhan, cukup banyak generasi muda yang mengambing hitamkan shalat Tarwih untuk pacaran.

Beberapa saat setelah berbuka puasa, mereka bergegas meninggalkan rumah dengan alasan pergi ke masjid untuk shalat berjemaah, tapi kenyataannya banyak diantara mereka yang tidak sampai ke rumah tempat beribadah, melainkan keluyuran sepanjang jalan, baik remaja putra maupun putri.

 Ironisnya lagi, kawula muda yang menipu diri sendiri itu, lebih senang duduk berpasangan di tempat yang gelap ketimbang menunaikan shalat atau mendengar ceramah agama di masjid dan mushalla. Mereka memadu kasih dikegelapan malam dengan bakalumun sarung, sehingga sulit membedahkan antara pria dan wanita.

Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang naik sepeda motor berpasangan sambil bersarung dan mengepit mukena. Begitu kaum muslimin dan muslimat selesai menunaikan shalat Tarwih dan Witir di mesjid, mereka pun kembali ke rumah dengan gaya pulang dari beribadah.

 Fenomena dari semua ini, wajar jika di benak para orangtua timbul  keraguan    mengizinkan sianak yang katanya pergi ke masjid. Takut izin yang diberikan   disalahgunakan.

Kendati pun sianak benar-benar pergi ke masjid yang katanya untuk mendirikan shalat Tarwih berjemaah, kakawatiran orangtua masih belum hilang.  Cemas anaknya akan ribut dan maota di masjid saat orang shalat. Bila ini yang terjadi yang disalahkan jemaah bukan hanya sianak saja, tapi bapak dan ibunya ikut jadi sasaran omelan. “Anak sia tu? Sia apak amak nyo tu? Gerutu dan pertanyaan ini pasti akan bergemah.

 Justru itu, untuk sekedar mencek kebenaran izin yang diberi kepada sianak, setibahnya mereka di rumah, agaknya beberapa pertanyaan perlu diajukan, “di masjid mana shalat, lai ndak maota, siapa imam dan siapa penceramah.”

Memantau perjalanan remaja di malam  Ramadhan, bagi para orangtua amad diperlukan, supaya izin yang diberikan tidak mereka salahgunakan, sebab hingga sekarang disinyalir  tradisi asmara Tarwih masih ada.

Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Salah kaprah dalam mendidik, membina dan mengarahkan mereka, tidak saja menjadi malapetaka dan musibah di atas dunia, tapi juga menjadi bumerang bagi orangtua di alam akhirat. Karena menyia-nyiakan amanah dan tanggungjawab terhadap anak, bisa menyeret orangtua ke neraka jahanam. Hendaknya hal ini menjadi renungan bagi remaja yang  sesat.  Jangan sampai orangtua  terlempar ke neraka jahanam gara-gara kesesatan yang diperbuat.

 Sadar dan insyaf serta kembalilah ke jalan yang benar. Jangan salahgunakan izin  yang diberikan orangtua di malam Ramadhan untuk pacaran, memadu kasih, atau perbuatan yang menabrak norma agama dan adat istiadat. nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.