Portal Kabupaten Sijunjung

ANAK MENANDUK IBU

0

Fenomena kedurhakaan anak, sebetulnya cukup banyak faktor penyebabnya. Antara lain pengaruh lingkungan, kurang pendidikan,  ekonomi lemah dan tekanan batin.

Tapi  yang paling parah karena tidak beriman, tidak berakhlak dan tidak tahu sopan santun lantaran jauh dari agama, kata seorang bundo kanduang, Hj. Rabiah, di Muaro Sijunjung, Minggu (5/3).

Justru itu, supaya anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang beriman, berbudi luhur, sopan dan hormat kepada kedua orangtua, merupakan kewajiban dan tanggungjawab bagi ibu bapanya untuk membekalinya dengan agama sedini mungkin.

Karena agama yang sudah dijiwai oleh sianak dari kecil, mampu menggiringnya untuk selalu  berbuat kebaikan, sekaligus menjauhkannya diri dari  perbuatan keji dan mungkar. Jangankan terhadap kedua orangtua, kepada orang lain pun mereka tidak akan melakukan kejahatan.

“Namun kadang kala disinilah letak kelemahan kita selaku orangtua, karena sibuk dengan urusan dunia dan pekerjaan atau karena tekanan ekonomi, kita lupa membekali sianak dengan agama, sehingga jiwanya kosong dari petunjuk Allah SWT,” tandas Rabiah.

Ulama mengatakan, bila seseorang jauh dari Allah SWT, teman terdekatnya  adalah syetan. Sedangkan syetan musuh nyata bagi manusia.

“Makanya kalau sekarang banyak anak yang melawan kepada orangtua, bahkan sampai menggorok, membunuh dan membakar, kesalahan itu tidak bisa dilemparkan sepenuhnya kepada mereka, tapi kita selaku orangtua juga perlu mengevaluasi diri, apakah kewajiban dan tanggungjawab kita sudah dilaksanakan sesuai tuntutan agama atau belum. Kalau belum berarti kitalah yang salah, bukan sianak,” papar Rabiah.

Selain kurangnya pendidikan agama yang diberikan orangtua kepada sianak, banyaknya terjadi pendurhakaan di zaman sekarang, juga akibat pengaruh makanan yang ditelannya.

Sebagai contoh, di zaman tempo doeloe, setiap anak yang lahir selalu dibesarkan dengan Air Susu Ibu (ASI), karena waktu itu belum ada susu bubuk dan susu encer seperti sekarang.

Dampak positif dari pemberian ASI, selain anak tumbuh dan berkembang dengan baik, dia juga merasa lebih dekat dengan ibu kandungnya, karena selalu dipeluk, didekap, dipangku dan disusui.

“Kedekatan itu saya rasakan langsung dari lima anak saya yang kini semuanya sudah berumah tangga dan beranak pinak,” kata Rabiah mencontohkan.

Tapi di zaman sekarang, ada sebagian ibu yang enggan menyusui, sehingga begitu anak lahir langsung diberi susu kaleng. Pada hal susu itu susu sapi.

Makanya jangan heran kalau di zaman sekarang banyak anak yang tegah menendang, menanduk dan menginjak ibu kandungnya,   karena perbuatan itu adalah tabiat sapi yang ditiru sianak melalui susu yang diminumnya, karena ada pameo klasik mengatakan ‘siapa menebar angin dia akan menuai badai’, sebut Rabiah. -nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.