Portal Kabupaten Sijunjung

Menggaet Wisatawan Dengan Daya Tarik Wisata Buatan

0

MC Sijunjung – Pemerintah Kabupaten Sijunjung telah menetapkan tiga prioritas pembangunan tahun 2020, salah satunya adalah pengembangan kepariwisataan.  Penetapan prioritas pembangunan pariwisata tersebut merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Sijunjung menyusul ditetapkannya Geopark Ranah Minang Silokek sebagai Geopark Nasional pada November 2018. Dengan penetapan sebagai Geopark Nasional tersebut, Kabupaten Sijunjung diharapkan menjadi destinasi pariwisata yang diperhitungkan dan Geopark Silokek dapat menjadi salah satu ikon pariwisata Sumatera Barat.

Sebuah destinasi pariwisata harus memiliki daya tarik wisata, yaitu segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Jadi, pengembangan daya tarik wisata bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, di samping mengharapkan efek penggandanya untuk peningkatan perekonomian masyarakat. Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Sijunjung memang perlu bekerja keras untuk meningkatkan kunjungan wisata, mengingat Kabupaten Sijunjung belum menjadi destinasi utama pariwisata di Sumatera Barat.  Berdasarkan data Provinsi Sumatera Barat Dalam Angka Tahun 2019,  jumlah kunjungan wisatawan  Nusantara ke Kabupaten Sijunjung Tahun 2018 adalah sebanyak 14.668 orang dari total 16.375.719 orang wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat, atau hanya sebesar 0,09%.  Angka tersebut berada pada urutan ke-13 dari 19 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat.

Persaingan pariwisata antar daerah belakangan ini semakin kompetitif.   Berbagai daya tarik wisata baru yang instagenik bermunculan.   Inovasi dan ide kreatif menjadi tolok ukur daya tarik wisata untuk menggaet kunjungan wisatawan.  Selera wisatawan selalu berubah, untuk itu, pengembangan pariwisata harus dibarengi dengan inovasi daya tarik wisata yang mengikuti perubahan selera wisatawan tersebut.

Berwisata sudah menjadi bagian dari aktivitas manusia.  Kehidupan dunia yang semakin modern dan dipenuhi kesibukan selama hari kerja membuat kebutuhan manusia untuk menikmati liburan semakin tinggi.  Berdasarkan data Statistik Wisatawan Nusantara 2018 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, dari 150.447.700 perjalanan yang dilakukan penduduk Indonesia selama Januari-Juni 2018, sebanyak 42,85% merupakan perjalanan liburan/rekreasi.

Liburan bersama keluarga menjadi tren pariwisata di Indonesia saat ini.  Dikutip dari  https://www.agoda.com, berdasarkan Survei “Tren Wisata Keluarga 2018” diketahui 81% wisatawan Indonesia berlibur dengan keluarga inti dalam setahun terakhir, 31% dengan keluarga besar, dan 54% dengan kakek nenek dan/atau cucu. Rata-rata, wisatawan keluarga Indonesia pergi berlibur lima kali dalam setahun terakhir.  Hal tersebut tidak terlepas dari kemajuan teknologi informasi, terutama penggunaan internet yang memudahkan siapa saja untuk mencari informasi tentang daya tarik wisata yang hendak dikunjungi, termasuk memesan tiket dan akomodasi.  Tren liburan keluarga tersebut merupakan peluang untuk mengembangkan daya tarik wisata keluarga. Belakangan ini banyak bermunculan objek wisata baru dengan daya tarik wisata yang inovatif.  Salah satu wisata favorit keluarga yaitu objek wisata buatan seperti theme park (taman hiburan) yang menawarkan berbagai wahana dan atraksi wisata yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga.  Apalagi kalau di tempat wisata tersebut terdapat banyak spot untuk berswafoto.  Tidak hanya kaum muda, semua kalangan menyukai hal ini.  Sekali lagi, internet dengan media sosialnya telah mengubah gaya hidup masyarakat,  termasuk “kebutuhan” untuk meng-update status dengan berswafoto di berbagai objek wisata. Penggunaan media sosial tersebut dengan sendirinya turut membantu mempromosikan destinasi wisata yang dikunjungi.

Belajar dari Kota Sawahlunto yang dulunya hanya dikenal sebagai daerah pertambangan batu bara, namun kini sudah menjadi destinasi wisata yang diperhitungkan di Sumatera Barat.   Kunjungan wisata ke kota ini banyak didongkrak oleh objek wisata yang menyediakan banyak wahana seperti Water Boom dan Taman Satwa Kandih, yang merupakan objek wisata buatan.  Berdasarkan data Kota Sawahlunto Dalam Angka Tahun 2018, jumlah pengunjung Water Boom Tahun 2017 adalah sebanyak 93.446 orang dan pengunjung Taman Satwa Kandih sebanyak 89.927 orang.  Jumlah pengunjung objek wisata tersebut jauh lebih banyak dibanding pengunjung objek wisata lainnya, seperti Museum Goedang Ransum dengan jumlah pengunjung sebanyak 19.619 orang, Museum Kereta Api sebanyak 12.220 orang, dan Lobang Mbah Soero hanya sebanyak 10.653 orang.  Jadi, objek wisata dengan berbagai wahana yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga ternyata lebih mampu menggaet pengunjung dibanding objek wisata dengan tema yang lebih khusus, seperti museum dan bekas lobang tambang batu bara, meskipun juga merupakan objek wisata buatan.

Dalam pemasaran sebuah produk, peran merek sangat menentukan daya saing produk tersebut terhadap produk lainnya. Begitu juga dalam pariwisata, keberadaan sebuah ikon pariwisata merupakan daya tarik wisata yang besar pengaruhnya dalam mempromosikan pariwisata daerah.  Geopark Silokek yang saat ini menjadi ikon pariwisata Sijunjung masih dalam tahap pengembangan daya tarik wisata, dan belum mampu menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.  Di tengan persaingan pariwisata yang semakin kompetitif  dan menghadapi selera wisatawan yang terus berubah,  maka perlu diciptakan ikon pariwisata baru Sijunjung dengan daya tarik wisata yang lebih komersil dan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Sebuah taman rekreasi terpadu dengan lokasi strategis yang mudah dijangkau (seperti di jalan lintas Sumatera) dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan pariwisata Sijunjung yang juga dapat menjadi ikon pariwisata Sijunjung. Berbagai wahana dan atraksi seperti kolam renang, permainan air, taman pintar, arena playground dan outbound, agro wisata dengan tanaman khas Sijunjung seperti lansek dan lahan sawah untuk belajar bertani, kebun binatang mini, pergelaran budaya, pasar cindera mata dan kuliner khas Sijunjung dalam satu lokasi  bisa menjadi daya tarik wisata untuk menggaet banyak wisatawan.  Konsep wisata terpadu, lokasi mudah dijangkau, dan keunikan yang disuguhkan tentunya dapat memuaskan para pengunjung.  Namun, pengembangan objek wisata ini tidak bisa dilakukan setengah-setengah, harus fokus dan tuntas sehingga layak dikunjungi. Pembangunan wisata buatan tersebut merupakan salah satu bentuk investasi wisata yang dapat dilakukan bekerjasama dengan investor swasta.

Perlu komitmen untuk mewujudkannya, apalagi pembangunan pariwisata harus dilakukan secara terintegrasi dan membutuhkan biaya yang banyak.  Semua sektor terkait harus bergerak seirama untuk satu tujuan. Sekali lagi, sebuah destinasi pariwisata unggulan hanya akan terwujud apabila ada komitmen yang sinergi di antara para pengambil kebijakan dan seluruh stakeholder terkait.

Penulis  :  Sabrina

     Perencana pada Bapppeda Kabupaten Sijunjung

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.