Portal Kabupaten Sijunjung

Jangan Biarkan Simiskin Menangis

0

Sijunjung. MC. Sijunjung, –  “Setiap habis Ramadan hamba rindu lagi Ramadan. Saat-saat beribadah tak terhingga mahal nilainya. Setiap habis Ramadan, hamba cemas kalau tak sampai umur hamba ditahun depan, beri hamba kesempatan. Alangkah nikmat ibadah Bulan Ramadan, sekeluarga, sekampung, senegara kaum muslimin dan muslimat sedunia seluruhnya kukuh dipersatukan dalam memohon ridho-Nya”.

Demikian diantara bait lagu yang dilantunkan penyanyi kondang Sam Bimbo yang memang pantas untuk direnungkan kaum muslimin dan muslimat yang beriman saat ini. Karena seiring dengan berkumandangnya suara takbir dan tahmid dari seluruh pelosok dunia dimalam menjelang lebaran, Bulan Suci Ramadan 1440 H telah berlalu dengan segala keagungan dan kebesarannya dari pangkuan kaum muslimin dan muslimat yang mendambahkan.

Dapatkah kita bertemu dengan Ramadhan 1441 H mendatang? Wallahualam. Sebab orang bijak mengatakan, apa yang akan terjadi sepermeliar detik yang akan tiba, tidak seorang pun yang bisa mengetahuinya, apa lagi setahun yang akan datang, sungguh sangat sulit untuk diramalkan.

Justru itu, bagi kaum muslimin dan muslimat yang beriman serta senantiasa mencari keredhaan Allah SWT, agaknya yang bisa dilakukan sekarang hanyalah satu, yaitu bertanya kepada diri sendiri. Adakah ibadah puasa itu berbekas di qolbu kita setelah melaksanakannya dengan penuh perhitungan sebulan penuh? Ataukah pertarungan dasyat yang telah dimenangkan akan berlalu begitu saja dari jiwa dan hati sanubari?

Tanpa pengakuan yang terucap, kedua pertanyaan secara tidak langsung akan terjawab oleh perbuatan, tingkah laku, sikap dan perkataan masing-masing individu kaum muslimin dan muslimat. Artinya, kalau memang kepergian Ramadan 1440 H meninggalkan sedikit bekas di dada, tentu semuanya akan berubah lebih baik dari sebelumnya.

Sebab dengan telah selesainya mengerjakan ibadah puasa sebulan penuh dengan mentaati hukum dan ketentuannya, tentu kaum muslimin dan muslimat akan dapat merasakan betapa beratnya beban  derita yang mendera saudaranya yang mengarungi hidup dan kehidupan dalam serba kekurangan yang kadang kala makan kadang kala berpuasa sepanjang hari lantaran tidak punya apa-apa. Sehingga akan tergerak hatinya  membantu meringankan beban derita yang mengimpit saudaranya itu.

Begitu juga bagi kaum muslimin dan muslimat lain yang lebih beruntung dalam hidupnya, seperti orang kaya dan pejabat yang menduduki “kursi empuk”. Kalau puasa memang meninggalkan hikmah pada dirinya, tentu mereka sudah merasakan betapa getirnya kehidupan yang selalu digeluti yatim piatu, fakir miskin, jompo terlantar dan para cacat yang tidak punya sanak famili, sehingga orang kaya dan pejabat itu akan mendermakan kelebihan hartanya kepada kaum papa ini.

Jangan biarkan simiskin menangis di hari kemenangan ini karena kemelaratan dan kesensaraan yang menggeluti hidup dan kehidupannya. Jangan biarkan yatim piatu bersedih dan meratap disaat teman sebayanya yang masih punya orangtua bergembira dan bersukaria dengan baju dan segala yang baru.

Mereka adalah saudara dan anak kita yang butuh bantuan. Ulurkan tangan. Dermakan sedikit harta kita untuk mengapus deraian air mata serta melipur kesedihan dan kepedihannnya.

Kaum papa! Karena tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, mereka terpaksa memperjuangkan hidupnya  di pinggir jalan. Duduk di bawah teriknya panas mata hari serta debuh jalanan sambil menadahkan tangan mengharap belas kasihan orang lalu, untuk sekedar sesuap nasi dan seteguk air.

Siang mereka bergumul dengan panasnya mata hari dan debuh yang berterbangan. Sehari mencari nafka hanya untuk makan hari ini. Malamnya mereka  bernaung di rumah yang beratap langit dan  tidur berselimut dingin.

Karena begitu beratnya beban derita yang mendera, mereka sering menjerit, menangis dan meratap, namun suara mereka hilang ditelan keangkuhan dan kesombongan dunia.

Kalau ke depan semua penderitaan kaum papa ini masih seperti sebelum Ramadan 1440 H, berarti ibadah puasa yang sudah dikerjakan kaum muslimin dan muslimat yang beriman sebulan penuh, tidak meninggalkan apa-apa dalam dirinya.

Bila memang begitu adanya, sadar dan ketahuilah bahwa kita semua telah merugi, sebab mata hati kita sudah tertup dan berkarat. Ulama mengatakan sudah katamallahu. Penyebabnya tidak lain tidak bukan karena kita terlalu mencintai dunia dan menyayangi harta, sehingga kita tidak peduli serta tidak menghiraukan derita dan sensara yang menggeluti saudara kita yang hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.

Tidak ada jalan lain, sesalilah diri, mohon ampun dan bertobat serta minta petunjuklah kepada Allah SWT, karena kita semua sudah dibelenggu harta dan diracuni dunia, sehingga kita lupa mempersiapkan diri serta mencari bekal untuk kembali ke kampung akhirat yang kekal dan abadi. Untuk sekedar direnungkan! –nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.