Portal Kabupaten Sijunjung

Doa Seorang Nenek Buta

0

Sijunjung. MC. Sijunjung, – Minggu (2/6) saya Shalat Ashar pada sebuah masjid di Kabupaten Sijunjung. Setelah berwudhuk, saat memasuki masjid saya lihat seorang nenek tengah berdoa  dengan khusuknya.

Sudah merupakan hal biasa, setiap kaum muslimin dan muslimat selesai mendirikan shalat, kebanyakan mereka duduk tafakur berdoa, memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan serta meminta lindungan, bimbingan dan petunjuk, sekaligus berharap rezki dari Yang Maha Permura. Terlebih di Bulan Suci Ramadhan. Begitu juga dengan nenek ini tentunya.

Tapi setelah saya selesai mendirikan shalat dan berdoa, nenek yang saya lihat tadi masih berdoa seperti semula. Sambil duduk bersimpuh dengan tenangnya, kedua belah tangan di balik mukena ditampungkan dengan muka agak menengadah.

Dengan bibir terus bergerak komat kamit, pipi sang nenek terlihat basah karena air mata. Sungguh sangat jarang saya melihat adanya kaum muslimin dan muslimat yang berdoa selama dan sekhusuk ini.

Karena saya sangat terkesan melihat sang nenek berdoa, saat itu juga timbul keinginan saya untuk mengetahui siapa gerangan nenek, sehingga saya duduk dengan sabar menunggu dia selesai berdoa untuk bisa berdialog agak sejenak. Lama juga saya menunggunya.

Begitu sang nenek selesai berdoa yang ditutup dengan mengusapkan mukena ke muka, dia langsung saya hampiri. “Assalamualaikum nek,” kata saya sambil mendekat. “Alaikumsalam,” jawab sang nenek.

“Siapa kamu cu”? tanyanya pada saya. “Saya seorang wartawan yang baru saja selesai meliput sebuah acara di daerah ini,” jawab saya jujur. “Tadi cucu dari mana”? tanyanya lagi. “Dari Muaro Sijunjung,” jawab saya apa adanya. “Ohh,” bisiknya membatin.

“Saya perhatikan tadi nenek berdoa begitu khusuk dan cukup lama, jarang sekali saya melihat adanya orang yang berdoa seperti nenek. Kalau saya boleh tau apakah memang sudah kebiasaan  nenek berdoa seperti itu,” tanya saya.

“Benar. Sejak saya bisa mengerjakan shalat sesuai rukun dan syaratnya, saya selalu berusaha berdoa sekhusuk mungkin. Ketahuilah cu, saya ini buta,” katanya dengan suara agak melemah.

Mendengar jawaban  sang nenek, saya cukup kaget dan terpana, karena saya tidak mengetahui sebelumnya kalau orangtua ini tidak bisa melihat alam fana ini.

“Malang nasib saya cu,” katanya membuyarkan keterpanaan saya. “sudah ditakdirkan Tuhan saya lahir ke dunia ini dalam keadaan buta, tanpa bisa  sedikitpun melihat keindahan alam semesta ini. Semua orang mengatakan bahwa alam ciptaan Allah SWT ini begitu indahnya, tapi saya belum pernah memandangnya, walaupun sekejap. Makanya sejak saya pandai mendirikan shalat dan berdoa, saya selalu meminta, memohon dan berharap kepada Allah SWT supaya saya bisa melihat keindahan, keagungan serta kebesaran ciptaan-Nya ini. Namun apa hendak dikata, sampai setua ini doa saya masih belum dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa,” tuturnya dengan air mata berlinang.

“Barangkali Tuhan tidak akan mengizinkan saya untuk melihat dunia ini sampai saya dijemput-Nya kembali,” sambung sang nenek. “Mungkin ini sudah suratan takdir yang harus saya terima dan jalani dengan sabar dan tawakal,” tambahnya pasrah.

“Kendati ini sudah garisan hidup yang harus saya jalani, namun saya belum putus asa, sehingga  dipenghujung usia yang masih tersisa sekarang, saya tetap berdoa, terlebih setiap selesai menunaikan shalat, saya selalu bermohon dan meminta kepada Allah SWT, agar saya bisa melihat alam ciptaan-Nya ini walaupun sekejap mata memandang, sebelum ajal datang menjelma. Hanya itulah pinta dan harapan saya, selain mohon ampun kepada Allah SWT. Saya tidak pernah meminta apa-apa dalam doa saya, selain dari itu,” aku sang nenek dengan suara mulai serak.

Mendengar begitu pedihnya penderitaan batin yang menimpa orangtua ini, tanpa disadari air mata saya berlinang dan bergulir membasahi pipi. Tapi sebagai insan lemah yang tak berdaya, saya pun  tak mampu menolongnya, meskipun ada keinginan untuk membantu sekedar meringankan beban derita yang menghimpitnya.

Begitulah romantika hidup dan kehidupan umat manusia di alam fana ini. Disatu sisi sang nenek ini begitu besar keinginannya untuk bisa melihat alam semesta ini walaupun sekejap mata memandang, karena dia belum pernah menyaksikannya lantaran matanya buta sejak lahir.

Namun disisi lain cukup banyak orang yang mempunyai mata sehat sehingga puas memandang alam sekelilingnya, tapi tidak bisa melihat lingkungannya, sehingga membiarkan tetangganya hidup dalam kemeleratan dan kesensaraan, sementara dia sendiri bergelimang kemewahan. Namun bagi orang seperti ini yang buta jelas bukan matanya, melainkan hatinya.  –nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.